malam anugerah Indie Short Love Movie Festival 2014
Jakarta, 8 maret 2014
  1. Nominasi Festival Film Dieng 2013
  2. Nominasi Festival Film Pelajar Jogja 2013
  3. Peraih Penghargaan Khusus Kategori Dokumenter Dari Dewan Juri Festival Film Jogja 2013
  4. Juara 1 Festival Film Biologidokumenter Unand 2014
  5. Juara 2 Insomnia 2014
  6. Penulis Naskah Terbaik INSOMNIA 2014
  7. Penata Musik Terbaik INSOMNIA 2014
  8. Aktris Terbaik INSOMNIA 2014
  9. Nominasi Sutradara Terbaik INSOMNIA 2014
  10. Nominasi D.O.P Terbaik INSOMNIA 2014
  11. Nominasi Penata Gambar Terbaik INSOMNIA 2014
  12. Nominasi Penata Artistik Terbaik INSOMNIA 2014
  13. Nominasi Penata Cahaya Terbaik INSOMNIA 2014
  14. Nominasi aktor Terbaik INSOMNIA 2014
  15. Top 8 Festival Film Solo 2014
  16. Top 3 Festival Film Malang 2014
  17. Nominasi Film Independen Pelajar Apresiasi Film Indonesia 2014
  18. Official Selection Pesta Film Airlangga 2014
  19. Film Terbaik 1 Festival Film Dieng Kategori Fiksi 2014
  20. Penulis Scrip / Cerita Asli Terbaik Festival Film Indie Jogja 2014
  21. Penata Suara Terbaik Festival Film Indie Jogja 2014
  22. Nominasi Penata Artistik Terbaik Festival Film Indie Jogja 2014
  23. Nominasi Festival Fim Pelajar 2014
  24. Harapan 1 Film Terabaik Festival Film Pelajar Jogja 2014


Sinopsis :
Orangtua adalah tempat berpegang hidup dan mencurahkan segala suka dan duka. Namun,hal itu tidak dirasakan lagi oleh Upik(Fadhilla), Uda(Hanif) dan Nur(Engla). Ketiga kakak-beradik itu telah ditinggalkan kedua orangtua mereka untuk selama-lamanya. Tak ada lagi tempat bergantung, tak ada lagi tempat berlindung
Mereka tak semata-semata hidup sebagai yatim piatu. Saudara laki-laki dari ibu(Mamak) akan merawat mereka. Ternyata ada harta yang akan dibagikan oleh Mamak. Harta tersebut jatuh kepada Upik,Uda,dan Nur sebagai ahli waris. Harta dibagikan sesuai dengan aturan adat Minangkabau,dimana perempuan mendapatkan harta lebih banyak daripada laki-laki. Pembagian harta tersebut menimbulkan konflik diantara mereka. Bagaimanakah penyelesaian dari konflik ketiga kakak-beradik ini?

Apresiasi Film Indonesia (AFI) adalah kegiatan tahunan Direktorat Pembinaan Kesenian dan Perfilman, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia dalam bentuk pemberian penghargaan kepada insan film Indonesia yang memiliki komitmen dalam berkarya dengan memproduksi film-film berbasis nilai budaya, kearifan lokal, dan pembangunan karakter bangsa.Apresiasi Film Indonesia (AFI) bukan ajang kompetisi yang semata-mata berfokus pada pencapaian estetika dan teknis sebuah karya film, melainkan juga mempertimbangkan seberapa kuat kualitas gagasan dan kontennya merepresentasikan kandungan nilai budaya, kearifan lokal, dan pembangunan karakter bangsa.
Film merupakan produk budaya yang efektif untuk menyampaikan pesan yang berkaitan dengan nilai budaya, kearifan lokal, dan pembangunan karakter bangsa. Karena itu pemerintah secara konsisten perlu mendorong insan/komunitas kreatif untuk terus menghasilkan produk budaya yang sesuai dengan tatanan nilai bangsa Indonesia. Pada sisi lain, edukasi terhadap masyarakat untuk semakin mencintai film Indonesia yang berkualitas juga harus menjadi perhatian.
Selama 2013-2014 cukup banyak film Indonesia yang disukai masyarakat dan menjadi salah satu tontonan yang menjadi pilihan utama. Hal ini menunjukan bahwa film kita mulai mampu menunjukkan gagasan yang menarik sehingga diakui keberadaannya. Dukungan kemajuan teknologi di bidang perfilman, perlengkapan produksi dan pasca produksi, serta keterampilan para insan film merupakan potensi yang sangat luar biasa. Oleh karena itu, dengan mengoptimalkan kreativitas dan inovasi, perfilman Indonesia akan dapat diperhitungkan di dalam maupun di luar negeri.
Film Indonesia dengan tema nilai budaya, kearifan lokal, dan pembangunan karakter bangsa adalah tema yang perlu dikembangkan. Selain untuk konsumsi lokal, juga diharapkan kiprahnya di dunia internasional. Untuk mengapresiasi film-film Indonesia yang bertemakan nilai budaya, kearifan lokal, dan pembangunan karakter bangsa itulah pemerintah memberikan penghargaan kepada insan film yang telah menerapkan kaidah etis, moral, estetika, dan artistik karya film yang menunjukan keluhuran budaya Indonesia di mata dunia.
Dari berbagai karya keratif yang ada, tahun ini, para juri AFI telah menetapkan 17 penghargaan yang akan meperebutkan Piala Dewantara bagi para insan film dan lembaga yang menghadirkan karya kreatif pengusung nilai-nilai budaya dan mendorong pekembangan perfilman nasional. 
Berikut ini merupakan daftar 17 kategori yang telah ditetapkan oleh Dewan Juri Apresiasi Film Indonesia 2014:
A. Penghargaan Utama

1. Apresiasi Film Cerita Panjang Bioskop
a. Cahaya dari Timur: Beta Maluku
b. Selamat Pagi, Malam
c. Sebelum Pagi Terulang Kembali
d. Sokola Rimba
2. Apresiasi Cerita Film Cerita Panjang Nonbioskop
a. Rocket Rain
b. Something in the Way
3. Apresiasi Film Pendek
a. Maryam
b. Gula-Gula Usia
c. A Lady Caddy Who Never Saw a Hole in One
d. Sepatu Baru

4. Apresiasi Film Dokumenter
a. Akar
b. Di Balik Frekuensi
c. Digdaya Ing Bebaya
d. Marah di Bumi Lambu
5. Apresiasi Film Animasi
a. Asiaraya
b. Kitik
c. Love Paper
d. Pret
6. Apresiasi Film Anak
a. Sepatu Dahlan
b. Seputih Cinta Melati
B. Penghargaan Khusus
7. Apresiasi Sutradara Perdana
a. Anggun Priambodo - Rocket Rain
b. Chairun Nissa - Inerie
c. Emil Heradi - Sagarmatha
d. Herman Kumala Panca - Tak Sempurna
8. Apresiasi Poster Film
a. 23:59 - Visualika Underdog Kick Ass, PT Bumi Prasidhi Bi-Epsi
b. Kesurupan Setan - Ganesa Perkasa Film
c. Sebelum Pagi Terulang Kembali - Cangkir Kopi, Transparency International Indonesia
d. Sagarmatha - Sinema Kelana, Cangkir Kopi, Add Word Production
e. Toil
9. Apresiasi Film Independen Pelajar
a. Cinto Tabateh Adaik
b. Indie Bung!!
c. Penderas dan Pengidep
10. Apresiasi Film Independen Mahasiswa
a. Iris
b. Joshua
c. Lembar Jawaban Kita
d. Sepatu Baru
11. Apresiasi Komunitas
a. Forum Lenteng (Jakarta)
b. Komunitas Godong Gedang (Banjarnegara)
c. Komunitas Sarueh (Padang Panjang)
d. Komunitas Sangkanparan (Cilacap)
e. Komunitas Tikar Pandan (Aceh)
12. Apresiasi Festival Film
a. Festival Film Pelajar Jogya
b. Festival Film Purbalingga
c. Festival Film Solo
d. Jogja-Netpac Asian Film Festival
e. Festival Film Dokumenter
13. Apresiasi Pendidikan Film
a. In-Docs
b. Kampung Halaman
c. SMPN 4 Satu Atap Karang Moncol
d. Serunya Screenwriting
14. Apresiasi Media Cetak
a. Majalah Kinescope
b. Majalah Tempo
c. Majalah Rolling Stone
15. Apresiasi Noncetak
a. Cinema Poetica
b. Jurnal Footage
c. Moviegoers
d. Muvila
C. Penghargaan Inspiratif

16. Apresiasi Adi-Karya
17. Apresiasi Adi-Insani
Malam penganugerahan AFI 2014 juga akan menjadi malam persembahan khusus "Tribute to Idris Sardi". Hal ini merupakan sebuah apresiasi terhadap seniman, tokoh budaya, dan musik yang telah melahirkan karya-karya unggul dan melalui karya-karya musiknya telah mewarnai serta melahirkan film-film yang berkualitas. Karena itu, malam penganugerahan AFI 2014 mengusung tema "Film dan Musik".

Puncak kegiatan AFI 2014 juga akan dimeriahkan oleh artis-artis ternama. Happy Salma dan Raline Shah didaulat menjadi host pada malam puncak AFI 2014.

Hamka seorang remaja yang hidup di lingkungan masyarakat Minang yang berpegang teguh pada adat budaya Minangkabau jatuh cinta kepada seorang gadis bernama Dewi yang tanpa disadari satu suku dengannya. Yang mana adat di Minangkabau itu melarang adanya perkawinan satu suku.
Karena hukum adat tersebut, Mamak memanggil raka pulang dan menemui Dewi untuk memberikan penjelasan kepada mereka berdua bahwa hubungan mereka dilarang oleh adat. Akan tetapi karena rasa cintanya yang teramat dalam kepada Dewi, Hamka tidak menerima hukum adat tersebut. Ia berfikir hukum adat itu salah karena adat Minangkabau berlandaskan kepada agama yang mana agama tidak melarang hubungan kawin satu suku. Tetapi setelah diberi penjelasan oleh Mamak, Hamka dan Dewi pun memahami hukum adat itu…


Ketika Siswa SMA di Daerah Tertinggal Membuat Film
Walau tak memiliki jurusan perfilman, siswa SMAN 1 Sijunjung justru masuk nominasi nasional, setelah film garapan mereka berjudul “Cinto Tabateh Adaik” masuk 10 besar dalam Festival Film Pelajar Indonesia. Film garapan Rizqy Cs itu menyingkirkan ratusan film karya siswa sekolah-sekolah ternama di tanah air.
Beberapa siswa kelas 1 hingga kelas 3 berkumpul di ruangan Kepala SMAN 1 Sijunjung Jontridel Efendi, kemarin. Para siswa tersebut dikumpulkan bukan karena telah melakukan pelanggaran, tapi merencanakan keberangkatan ke Jakarta memenuhi undangan Indie Short Love Movie Festival (Insomnia 2014).


Sepuluh siswa itu diundang ke Ge­dung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail di Kuningan Jakarta Selatan pada 7 Maret nanti, karena film berdurasi 10 menit hasil garapan siswa tersebut masuk 10 besar nasional dalam ajang Festival Film Pelajar Indonesia.
Film pendek karya mereka berhasil menyingkirkan ratusan film hasil siswa sekolah-sekolah ternama di seluruh Indonesia.
Film berjudul “Cinto Ta­ba­teh Adaik” itu bercerita ten­tang dua remaja ber­nama Ham­ka dan Dewi yang men­jalin hu­bu­ngan asmara. Namun karena lahir dari suku yang sama, hu­bungan ke­dua­nya di­halangi orang tua dan ninik ma­mak.
Akhirnya Hamka dan Dewi diminta memutuskan hu­bu­ngan­nya demi mem­­­­per­ta­han­kan adat.
Alur cerita yang meng­gam­barkan tingginya nilai adat di Ranah Minang itu memiliki cerita bernilai pendidikan adat yang sangat kental di tengah ma­sya­rakat.
“Salah satu yang menjadi pertimbangan juri adalah film ini menggambarkan bagai­ma­na kerasnya masyarakat Mi­nang dalam melestarikan adat­nya. Selain itu, kami juga masih memakai bahasa Minang da­lam dialognya,” ujarnya.
Dalam film ini juga ter­gam­bar, walaupun hubungan pera­saan sudah kuat antara dua pa­sa­ngan, namun jika memiliki per­ta­lian suku, ada dilema dan keputu­san yang berat harus diambil. “Film Cinto Tabateh Adaik ini yang menjawabnya,” sebut dia.
Siswa yang berperan dalam film yang diundang ke Jakarta adalah Rizqy Vajra, Robby Yulhansyah, Vinny Natasya Utari, Ranti Wulandari, Engla Oktavia, Hanif Aulia Fikri, Rakha Panji Giantama, Midle Four, Satrya Dita Alqorny, dan Fadhila Dwi Putri.


Bagi Rizqy dan rekan-re­kannya, prestasi bidang per­fil­man tersebut bukanlah yang pertama. Pada akhir tahun lalu, film dokumenter yang disu­tra­darai siswa kelas 3 jurusan IPA itu juga berhasil meraih juara 1 dalam Lomba Karya Tulis Il­miah (LKTI) yang diadakan Himpunan Mahasiswa Biologi (Himabio) Unand se-Sumatera, Jawa dan Bali.
Film Dokumenter berjudul “Adat Jagalah Hutan Kami” itu mendapat perhatian para juri dalam penilaian di ajang Lobi LKTI. Film itu menceritakan bahwa yang berperan dalam menjaga dan melestarikan hu­tan bukan hanya masyarakat, tapi juga adat.
Disebutkan remaja ber­na­ma lengkap Rizqy Vajra J itu, prestasi yang diperoleh tersebut hasil doa dan du­ku­ngan pihak sekolah. “Kerja sama tim juga sangat me­nen­tukan keber­ha­silan kami dalam berkarya. Kami saling mengisi keku­ra­ngan dalam menggarap film tersebut, sehingga hasil mak­simal yang diharapkan bisa tercapai,” ungkap siswa kelas 3 IPA 1 itu.
Kepala SMAN 1 Sijunjung Jon­tridel mengatakan, apa yang te­lah dicapai siswanya tidak ha­nya membanggakan sekolah, na­mun juga seluruh ma­sya­rakat Si­junjung dan pemerintah daerah.
Meski Sijunjung masuk dae­rah tertinggal, tapi anak-anak daerah ini tetap bisa ber­saing dengan siswa daerah lainnya di Indonesia. Tidak hanya dalam lomba ini, tapi juga peduli dalam berbagai gerakan sosial.